About Margiawidi

Hello, welcome to our home in the cyber world. I am Johanes Heru Margianto (Mbonk) and my wife is Aristyarini Widianti (Iw). Our beloved son is Padrepio Agyandra Margiawidi (Agya). We are Margiawidi's family. This blog contains a fragment of our life. Hope you enjoy to stop by.

Rumah Margiawidi

Pulang. Ke rumah ini kami selalu merindukan untuk pulang. Jauh dari Jakarta, di Bekasi sana. Tiap kali menembus kemacetan kami dihibur oleh kerinduan bahwa sebentar lagi kami akan berkumpul di rumah. Di sana kami mengistirahatkan batin dan menjalin harapan tentang cinta dan kebahagiaan.

Makan Sendiri

"Nanananana....," teriak Agya sambil menggoyang-goyangkan tangannya. Itu artinya dia tidak mau.
"Akan ili," katanya lagi. Makan sendiri.

Belakangan ini Agyandra lagi sering "belagu". Apa-apa maunya sendiri. Mandi sendiri. Makan sendiri. Makan apapun maunya dipegang sendiri. Enggak mau lagi disuapin. Minum juga sendiri. Enggak mau pakai sedotan. Kalau mandi juga begitu. Enggak mau disirami. Maunya siram sendiri. Kalau ikut belanja ke Indomaret atau Alfamart sembarang barang diambil dimasukin tas keranjang.

Yang paling heboh tentu saja waktu makan. Mukanya celemongan nasi, Makanan belepetan di ubin. Mending kalau makannya diam. Geser sana geser sini. Alhasil kekacauan yang paling memusingkan adalah saat-saat Agya makan.

Kekacauan demi kekacauan terjadi setiap kali kita melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Kekacauan adalah teman manusia yang belajar. Setiap hal selalu ada kali pertamanya. Belajar hal yang baru mengenai apapun pasti melewati fase kekacauan ini.

Maka, biarlah rumah ini kacau karena di sinilah Agya memulai pelajarannya tentang hidup. Bukan cuma Agya yang masih belajar, kami yang sudah tua ini pun masih jatuh bangun belajar meniti kehidupan.

Keluarga (Sangat) Besar

Di Indonesia menikah tidak hanya urusan sepasang kekasih. Dalam batas tertentu kita juga "menikahi" keluarganya, bahkan keluarga besarnya. Mengenal keluarga besar pasangan tidak sulit jika jumlah saudaranya tidak banyak.

Tapi, akan lain soalnya jika jumlah saudaranya seabreka-abrek seperti di keluargaku. Apalagi jika keguyubannya begitu erat. Mau tidak mau intensitas pertemuan makin sering. Mengenal dan menghapal ini siapa bukanlah perkara mudah.

Inilah yang dialami Iw. Hampir tiga tahun pernikahan kami Iw masih kesulitan menghapal saudara-saudaraku. Yang repot adalah mengenal siapa yang harus dipanggil Mbak, Mas, Lik, Pak De dan Bu De. Tidak soal memang kalaupun salah panggil, paling diketawain.

Kesulitan ini tidak aku alami di keluarga Iw karena jumlah saudara-saudaranya "terukur". Iw juga tidak mengalami kesulitan untuk mengenal saudar-saudara dari garis keturanan bapak, karena jumlah saudara di keluarga bapak juga "terukur".

Nah, yang "ukurannya" sulit masuk di kepala adalah saudara-saudara dari garis ibuku. Ibu memiliki sembilan saudara kandung yang masing-masing sudah beranak pinak sedemikian rupa. Bahkan, ada sejumlah anak kecil yang sudah memanggil kami dengan sebutan Mbah. Jadi, sepupuku sudah ada yang memiliki cucu.

Repotnya lagi, hubungan kekerabatan di keluarga Ibu tidak sebatas di garis keturunan sekandung Ibu, tapi juga meluas hingga garis keturunan Simbah. Si anu adalah anak dari anaknya kakaknya Simbah. Si ini adalah adik dari Si anu yang sepupunya Simbah, tapi beda bapak dengan Si ono. Pusing kan...

Lebih rumit lagi, sebagai perantau di Jakarta mereka yang satu kampung di Gunung Kidul sana juga dipandang sebagai saudara. Dan, kalau dihitung, total semua yang disebut saudara mencapai lebih dari seratus orang. Mabok gak tuh...

Jadi TKW

Libur Lebaran tiba. Teti, pengasuh Agya, mudik ke Majalengka. Sesuai ketentuan yayasan, Teti dapat jatah libur 2 minggu. Teteh, pembantu kami, juga akan ambil libur mulai H-1. Pusing? Lumayan. Aku dan Iw harus mengatur waktu, gantian libur menjaga Agya dan mengurus aneka pekerjaan rumah. Eyang sudah "diimpor" jauh-jauh hari dari Salatiga.

Kami ini potret keluarga urban. Suami isteri kerja. Rumah di pinggir kota jauh dari tempat kerja. Berangkat pagi-pagi buta dan sampai rumah jarang bertemu matahari. Sepanjang hari anak dijaga pengasuhnya. Akhir pekan jadi sangat berarti. Waktunya kumpul bersama.

Nah, di libur lebaran ini tak mudah juga mengatur waktu cuti. Aku dan Iw masing-masing memiliki beban kerja. Tapi, harus ada kompromi. Dan, tidak sulit juga mencari titik tengah. Prinsipnya, masing-masing siap mengalah. Agya harus jadi pertimbangan nomor saru melebihi urusan kantor.

Yang repot tidak hanya kami. Eyang pun ikut-ikutan repot. Usia Eyang sudah tidak muda lagi, hampir 70 tahun. Dengan sangat terpaksa kami membuatnya harus turun gunung. Eyang sih tentu senang-senang saja, karena di Jakarta malah kumpul dengan anak cucu.

Kemarin Eyang bercerita, ternyata bukan hanya dia saja yang turun gunung. "Sekarang ini musim TKW. Tante Sri sama Oom Jito ke Samarinda nemani Ririn. Bu Darno juga ke Jakarta bantuin anaknya. Lebaran musimnya kakek nenek jadi TKW...hehehe," ujar Eyang.

Terima kasih ya Yang, dah mau jadi TKW di rumah kami....

Selamat Ulang Tahun Mbah Kung

"Yang mana ya, Pa? Yang ini apa yang itu?" tanya Iw.
"Hmmm...yang mana ya?" aku juga bingung.
"Yang ini aja deh. Yang itu terlalu ramai motifnya. Yang ini biar gelap, tapi rapi," akhirnya aku memutuskan.

15 Septermber kemarin Mbah Kung ulang tahun ke-66. Tapi, kami baru merayakannya akhir pekan ini. Puji Tuhan Mbah Kung masih sehat. Sebuah kemeja Cardinal berwarna hijau gelap adalah kado kami untuknya. Deni menghadiahi kaos polo, sementara Desi kain bahan celana. Klop deh, Mbah Kung dapet paket komplet pakaian.

"Wah, terimakasih ya, Agya," sorak Mbah Kung saat tangan mungil Agya menyerahkan kantung plastik berisi kado dari kami.
"Buka donk, Mbah," pinta kami.

Kemeja itu ternyata pas dan pantas dikenakan Mbah Kung. Kebetulan pula, warnanya juga sepadan dengan kain celana yang dibelikan Desi. Mbah Kung berseri-seri. Apalagi yang diharapkan orangtua itu selain perhatian sayang dari anak-anaknya.

Kami membuat pesta kecil di Solaria. Syukur pada-Mu Tuhan Sang Pemilik hidup atas anugerah kesehatan untuk Mbah Kung. Milikmulah segala sesuatu di atas bumi ini. Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di dalam surga. Amin.

Sambal Oncom

Makanan apa yang tidak bergizi tapi enak? Gudeg, ikon kota Jogja itu tidak bergizi tapi enak. Nangka muda direbus berjam-jam ya gizinya hilang. Kalaupun ada gizinya itu berasal dari penganan pelengkap gudeg, seperti telur, tempe dan lain-lain.

Ada lagi penganan yang sangat populer di Indonesia tapi tidak bergizi. Kerupuk. Adakah penelitian yang menemukan gizi pada kerupuk? Penganan keriuk-keriuk ini tidak bergizi tapi enak. Hotel berbintang di Indonesia saja menyediakan kerupuk untuk sajian makanan khas Indonesia.

Satu lagi makanan khas Indonesia yang tidak bergizi tapi maknyuss adalah oncom. Oncom dibuat dari sisa ampas tahu yang sengaja didiamkan hingga berjamur. Sudah ampas berjamur pula. Selama ini kami tidak pernah masak oncom. Enggak pernah kepikiran aja.

Pagi tadi waktu nemeni Iw belanja kebetulan mataku tertumbuk pada seonggok bentuk berwarna jingga. Tiba-tiba saja aku kepingin oncom. Ibuku sering memasak oncom. Tukang gorengan pinggir jalan pun beberapakali aku dapati menjual oncom goreng. Dan, hari ini aku kangen oncom.

"Iw, mau oncom donk," pintaku.
"Hah, masaknya gimana," tanya Iw bingung.
"Ya digoreng aja kayak goreng tempe."
"Yakin doyan?"
"Doyan!" jawabku mantap.

Di rumah, Teti juga bertanya,
"Pak, oncomnya dimasak gimana nih?"
"Ya, digoreng aja, Tet, kayak goreng tempe itu," kataku.
"Wah, kalau digoreng ancur, Pak. Lagian oncom itu kan nyerep minyak. Nanti malah jadi nyemek-nyemek."
"Trus diapain donk?"
"Dibikin sambal oncom aja ya, Pak," Teti usul.
"Boleh."

Tak lama kemudian Teteh, juru masak andal The Margiawidi's, datang. Melihat ada oncom di dapur Teteh juga bertanya mau diolah jadi apa makanan ampas itu.

"Dibikin sambal oncom aja, Teh," sambar Teti.
"Iya, enaknya emang dibikin sambal oncom," kata Teteh.
"Kok tumben nih beli oncom?" tanya Teteh sambil berkutat di dapur.
"Iya, Teh, tiba-tiba aja Bapak pingin," jawab Iw.

Teteh emang andal. Racikan tangannya gak perlu disangsikan. Kalu kalian datang ke rumah kami kalian harus mencicipi sayur asem sunda ala Teteh. Mantafff luar biasa. Dan, oncom yang makanan ampas itu betul-betul jadi istimewa di tangan teteh. Aku enggak habis-habisnya memuji oncom yang satu ini. Siang ini sang oncom bersanding dengan bandeng presto.
Sambil menikmati Si Oncom tiba-tiba terbayang olehku alangkah berjodohnya jika sambal oncom ini disandingkan dengan ikan peda. Wuiiiihhh...sluurrrppp....

"Iw, kayaknya enak nih kalo temennya oncom si ikan peda," kataku.
"Ikan peda itu bergizi gak sih?" tanya Iw [pertanyaan ini Iw bangets]
"Oncom itu kan gak bergizi masak temannya gak bergizi juga," lanjutnya.
"Oncomnya enak gak Iw?" aku balik bertanya.
"Enak!" jawab Iw.
"Nah, cuma itu yang kutahu, Iw. Soal ikan peda pun yang kutahu cuma enak," kataku.
"Dasar Si Gembul," gerutu Iw.